Acacia aulacocarpa A. Cunn. Ex Benth.
Inggris : Brown salwood, hickory wattle, New Guinea brown wattle, New Guinea wattle
Indonesia :

Semak atau pohon besar, tinggi 3—40 m berdiameter 1 m. Daun berbentuk seperti bulan sabit dengan ujung daun runcing. Permukaan daunnya halus berwarna hijau pucat atau hijau keabuan dengan 3 urat daun longitudinal yang jelas. Perbungaan bulir, berwarna kuning, terdapat 3 bulir dalam satu tangkai bunga; bunga terdiri dari 5 petal, biseksual; Kelopak bunga berbentuk mangkuk, tipis dan halus, berlobus. Mahkota bunga 1.2—1.9 mm, berlobus hingga ke tengah, halus tidak berisisk. Buah kering berwarna coklat terang, permukaannya mengkilap dan halus dengan urat-urat berwarna coklat gelap, sering kali terpuntir ketika tua. Biji berbentuk elips, berwarna hitam mengkilap, berjajar melintang di dalam buah keringnya, dengan selaput biji terminal berwarna pucat.

Kategori : Tumbuhan perintis/reklamasi
Sinonim : Acacia aulacocarpa A. Cunn. ex Benth. var. macrocarpa Benth. Acacia lamprocarpa O. Schwarz , Racosperma aulacocarpum (A. Cunn. ex Benth.) Pedley .

Name
Indonesia: Alamanda Inggris: golden-trumpet, common allamanda
Classification
Kingdom: Plantae (Plants)
Subkingdom: Tracheobionta (Vascular plants)
Super Division: Spermatophyta (Seed plants)
Division: Magnoliophyta (Flowering plants)
Class: Magnoliopsida (Dicotyledons)
Subclass: Asteridae
Order: Gentianales
Family: Apocynaceae
Genus: Allamanda
Species: Allamanda cathartica L.
Description
Perdu plants, long-lived (perenial), can achieve a high + / – 4 m. Roots upside. Wooden trunks, astigmatism, eared, green color, smooth surface, monopodial branching, branches droop direction. Single leaf, frame short, structured face-to-face (folia oposita), green color, ellipse shape, length 5 – 15 cm, width 2 – 5 cm, leaf blade thick, the ends of the base and taper (acuminatus), average edge, top and bottom surfaces smooth, sticky compound flowers, bunches of (racemus), appears in the armpit and the tip of the leaf stem, funnel-shaped crown (infundibuliformis) – yellow, crown length 8 – 12 mm, corolla sticky (gamopetalus) Fruit box (capsula), rounded , the length of + / – 1.5 cm, the form of a triangle with the bean, pale green when young – after the old black be generative breeding (seed), vegetative (stek).

PEMUPUKAN PADA TANAMAN ANGGREK DENDROBIUM

Anggrek merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang mempunyai potensi untuk dikembangkan di Jakarta, baik sebagai bunga potong maupun tanaman dalam pot. Salah satu jenis bunga yang banyak dikembangkan di Jakarta adalah anggrek Dendrobium. Selain tingkat kebutuhan konsumen akan bunga anggrek Dendrobium cenderung meningkat, harganya pun cukup tinggi.

Dalam membudidayakan tanaman anggrek Dendrobium, media yang digunakan tidak cukup menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya,

sehingga perlu diberi pupuk, baik organik maupun anorganik.

Anggrek Dendrobium merupakan tanaman epifit, sehingga penyerapan hara melalui akar sangatsedikit karena

itu penyerapan hara dapat ditingkatkan dengan cara memberikan pupuk melalui daun.

Selama ini pupuk majemuk yang digunakan petani adalah: Hyponex, Gaviota, Cristalon, dan lain-lain, sementara harga pupuk tersebut akhir-akhir ini meningkat. BPTP Jakarta telah melakukan pengkajan beberapajenis pupuk pada tanaman anggrek Dendrobium sebagai salah satu upaya mendapatkan pupuk pengganti (alternatif) yang efektif dan efisien.

JENIS DAN MANFAAT PUPUK

1. Pupuk Nitrogen (N) berpengaruh meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Tetapi bila diberikan secara berlebihan, tanaman mudah terserang penyakit dan pembentukan bunga menjadi .

terhambat.

2. Pupuk Phospor (P) berpengaruh untuk merangsang pembungaan.

Kekurangan unsur P menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat.

3. Pupuk Kalium (K) merangsang pertumbuhan akar dan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit.

Kekurangan unsur K menyebabkan terhambatnya proses fotosintesa dan jumlah tangkai bunga menurun.

PEMBERIAN PUPUK

Pemberian pupuk pada tanaman anggrek Dendrobium disesuaikan dengan tahap pertumbuhan tanaman yaitu:

1. Dendrobium bibit (Seedling) membutuhkan pupuk dengan perbandingan N:P:K sebanyak 60:30:30.

2. Dendrobium ukuran sedang tumbuh membutuhkan pupuk dengan perbandingan N:P:K sebanyak 30:30:30.

3. Dendrobium yang sedang berbunga membutuhkan pupuk dengan perbandingan N:P:K sebanyak 10:60:10.

4. Dosis untuk pupuk daun yang berbentuk kristal adalah 1 gram/liter dan dosis untuk pupuk berbentuk cairan adalah

2 cc ? 3 cc dilarutkan dalam 1 liter air.

5. Pemupukan dilakukan seminggu sekali dengan menyemprotkan ke seluruh bagian tanaman.

6. Sebaiknya tidak menyiramkan pupuk ke media karena tidak efisien, hanya ujung akar yang memanfaatkanya.

7. Waktu penyemprotan sebaiknya pada pagi atau sore hari.

8. Jika cuaca mau hujan tunda pemupukan karena pupuk yang diberikan akan tercuci sebelum diserap tanaman.

HASIL KAJIAN

Pupuk yang dikaji terdiri dari:

a) 30 gr NPK + 5 cc Metalik/10 lt,

b) 5 gr Dekastar + 5 cc Metalik/10 lt,

c) 40 cc Herbasri/10 lt.

Bibit anggrek yang digunakan berasal dari kultur jaringan dengan ukuran bibit 10 cm yang ditanam pada pot tanah

berdiameter 15 cm.

Pot diisi dengan pecahan batu bata sampai 1/3 bagian tinggi pot.

Selanjutnya anggrek ditanam pada bagian tengah pot yang telah berisi media.

Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman telah berumur 1 minggu dengan cara disemprot melalui daun dan

diulang tiap minggu.

Pemeliharaan tanaman dilakukan secara rutin terutama penyiraman. Pengendalian terhadap ulat daun digunakan

Dithane 0,2%.

Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk NPK ditambah unsur mikro Metalik cenderung memberikan

pertumbuhan yang terbaik diikuti oleh penggunaan pupuk Dekastar + Metalik dan penggunaan pupuk Herbasri.

Sumber: LIPTAN BPTP JAKARTA, No.: 02/RL/LIPTAN/BPTP JKT/2002

http://jakarta.litbang.deptan.go.id/klinikagribisnis/ – Klinik Agribisnis DKI Jakarta Powered by Mambo Open Source Generated: 15 December, 2008, 19:40